Spanduk Raksasa di Bundaran HI Tampar Klaim Kesejahteraan Dua Tahun Prabowo-Gibran
By Admin
Dok. Greenpeace Indonesia
nusakini.com, Peringatan dua tahun masa jabatan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diwarnai aksi unjuk rasa oleh organisasi lingkungan Greenpeace Indonesia di Jakarta Pusat pada Selasa (20/10/2026). Sejumlah aktivis dilaporkan membentangkan dua spanduk berukuran besar berisi pesan protes dari atas Monumen Selamat Datang di kawasan Bundaran Hotel Indonesia.
Berdasarkan keterangan resmi organisasi tersebut, spanduk yang mengarah ke Istana Merdeka memuat tuntutan penanganan krisis iklim demi menurunkan biaya hidup masyarakat. Sementara itu, spanduk kedua yang menghadap ke selatan menyoroti dugaan lambatnya kinerja pemerintah menghadapi rentetan bencana di tengah kesulitan ekonomi warga.
Aksi damai ini bertepatan dengan peluncuran hasil riset bertajuk "Besok Harga Naik" yang meneliti dampak kerusakan ekologis terhadap daya beli kelompok rentan. Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menyatakan bahwa pemerintah dinilai belum mampu memberikan jalan keluar atas rentetan bencana yang mengganggu aktivitas perekonomian harian.
"Pemerintah gagal untuk menyediakan solusi bagi dampak krisis iklim yang semakin nyata dirasakan dalam kehidupan sehari-hari," ungkap Jeanny melalui keterangan tertulisnya pada Rabu (21/10/2026). Ia menambahkan bahwa cuaca ekstrem belakangan ini telah menekan tingkat pendapatan warga sekaligus memicu lonjakan harga berbagai bahan pangan pokok secara drastis.
Laporan tersebut membeberkan bahwa sekitar 41 persen masyarakat di kawasan Jabodetabekjur, Bandung Raya, dan Yogyakarta Raya merasakan imbas terbesar pada pengeluaran makanan. Kelompok pekerja informal yang tidak memiliki upah tetap, termasuk pengemudi ojek daring dan nelayan, disebut sebagai pihak yang paling menderita akibat memburuknya situasi ekologis ini.
Merespons pidato kenegaraan terkait capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen pada semester pertama 2026, pihak Greenpeace turut menyuarakan kritik tajam kepada eksekutif. Ketua Tim Kampanye Sosial dan Ekonomi Greenpeace Indonesia, Atha Rasyadi, mempertanyakan distribusi kesejahteraan rakyat dari angka yang diklaim tertinggi dalam 13 tahun terakhir tersebut.
"Kita tidak bisa terus diam ketika pertumbuhan ekonomi hanya memperkaya segelintir orang apalagi dengan eksploitasi alam secara serakah, sementara masyarakat dipaksa berjuang sendiri untuk bertahan hidup," tegas Atha. Menurut catatan surveinya, lebih dari 57 persen warga bahkan terpaksa memangkas pengeluaran non-esensial demi sekadar bertahan di tengah himpitan ekonomi rumah tangga. (*)